Mimpi dan Sunyi … (Part 2 eps 5)

Kembali dalam hentakan nada, hingga semua bayangan memudar dalam kehampaan. Terbangun dalam kesunyian yang tersembunyi dalam ketenangan dan keramaian manusia, terkadang ku lihat mereka dalam rutinitas yang sama dan sampai saat ini tak banyak perubahan yang ada hingga membuatku mabuk kepayang. Ada satu kepingan kehidupan yang membuatku menganga dan berharap tuk bertahan meski hanya sekejap, ya, … itulah yang ku maksud dengan “harapan”. Harapan mereka kini perlahan akan hancur dengan melihatku hancur perlahan.

Ku buka mata dan suasana mendung yang ku damba nan sejuk membuat mataku sayup-sayup dingin. Ingin rasanya ku hentikan waktu dan berada dalam waktu ini yang tenang dan tanpa merasakan apapun, tak sabar ku nanti waktu demi waktu menjelang aku lepas dari tubuh ini dalam kesunyian. Tak ada yang bisa aku perjuangkan karena kehampaan sudah merasuk dalam relung jiwaku yang terdalam.

Hanya satu harapanku, agar Allah, tuhanku, mau memberi hukuman padaku dan tidak menyiksa dan memberatkan semua orang karena hukuman yang aku alami. Ya, hukuman kesunyian ini yang aku harapkan agar mereka tidak tahu bahwa aku telah mati dan disiksa atas semua kelalaian dan kejahatanku selama hidup.

Dan selama itu, aku ingin sisi lain dari diriku bersamaku. Ya, Michiru dan aku adalah satu serta hubungan kami akan selalu dalam satu jiwa. Michiru adalah refleksi kepribadianku yang bertentangan dengan kepribadianku yang asli, dan kami selalu menghabiskan waktu bersama sejak aku bangkitkan dia 13 tahun silam.

Aku tahu akan terasa sakit karena luka ini semakin lama semakin lebar, dan obatnya hanya satu. Antara lelaki tua itu dan aku harus ada yang mati, … ya, .. MATI ….

Kalaupun aku mati, aku tak menyesal. Meski pada akhirnya aku jatuh ke neraka paling dalam, aku tak mengapa. Dan aku tak kan menuntut siapapun atas kegagalanku dalam mengarungi hidupku, namun yang membuatku teramat sedih dan sakit adalah saat melihat orang-orang yang aku kenal mengalami nasib serupa.

Jangan seperti aku, kawan. Kalian masih punya masa depan, sedangkan aku tidak. Aku meminta kalian tuk tetap maju dan gapai impian kalian.

…….

Sekian … (Bersambung, ….)

Iklan

Mimpi dan Sunyi … (Part 2 eps 4)

Kini hanya tinggal sebuah taman kecil sederhana dalam sanubari yang bernama “Kenangan” yang berisi masa lalu dan momen bahagia yang telah ku lewati bersama dengan orang-orang terkasih. Aku tahu bahwa tiada yang sempurna, dan aku sadar bahwa kekurangan pada diriku adalah kurang sabar dalam berkomunikasi, maka untuk kesekian kalinya, aku harus menahan diri dari siapapun yang mengutarakan perasaannya padaku, dan memang seharusnya aku tidak boleh melukai hati lawan jenis, “tapi kecocokan bukanlah yang utama, melainkan saling melengkapi dan menutupi kekurangan dengan kelebihan”. Makna yang sering terdengar ketika aku mendengar dan melihat beberapa orang membicarakan ini.

Tak apa, saat mataku tertuju pada langit barat Malang, aku ingat betapa manis kenangan-kenangan ku bersama dengan masa laluku. Namun bukan itu yang ingin ku pertahankan, melainkan visi-misi dan saling mengerti satu sama lain itu yang masih ingin kucari dari sosok wanita-ku kelak yang nantinya bisa menjadi teman hidupku.

Lalu sisi lainku berkata “sudahlah, ingat sumpahmu tuk melajang selamanya sebagai hukuman lelaki tua itu yang membuat luka di hati hingga sekarang. Bahkan aku tidak yakin jika waktu bisa menyembuhkan lukamu, kawan”, ujar sisi lainku.

Lalu akupun berkata, “ada benarnya juga, memang efek jera yang ingin aku beri padanya agar jadi pembelajaran bagi yang lain agar tidak bernasib na’as seperti ku. Terima kasih sudah mengingatkanku, kawan. Semoga Allah membalas kebaikanmu”.

Dan akupun berlalu, memutar waktu, menjemput momen yang ku sebut “berlayar ke pulau kapuk…”, tidur.

Sekian … (Bersambung…)

Mimpi dan Sunyi …, (Part 2 eps 3)

Ingin ku melepas bayang langit barat nan syahdu saat terdengar alunan musik surgawi yang berasal dari rumahNya yang Maha suci lagi maha segalanya, tak sanggup diri ini mendengar indahnya lantunan itu sampai-sampai takut tuk menjauh dari kehidupan yang semu nan indah ini. Ufuk langit menunjukkan pekatnya malam dan dihiasi bintang-bintang yang tersenyum padaku saat ku baringkan diri ini di padang rumput kampus yang baru saja terlewat. 

“Bagaimana kabarmu yang di sana, wahai cinta ?”, gumamku dalam hati ditambah suasana yang tenang nan sejuk ditemani hembusan angin dari arah yang tak ku mengerti. Dalam anganku, wajahnya yang lugu, manis, dan manja ini membuatku tak bisa sedetikpun luput dari benakku. Hingga aku tersadar, “yank …”, ponselku berdering dan kubaca SMS sejenak, 

Meski aku jujur, bosan juga dia SMS tiap hari, tapi tak jenuh-jenuhnya dia menyapa dan berkomunikasi denganku. Sungguh perjuangan yang gigih, melihat kepribadian kami yang berbeda, aku yang terkesan cuek pun lama-lama tak bisa juga mengabaikan ketulusan hatinya padaku. 

“Iya yank, ada apa ?”, jawabku. 
“Lagi ngapain ?”, “ya lagi santai aja sambil menikmati wifi di kampus, pean yank ?”. 

Begitu saja percakapan kamipun mengalir begitu saja di sela-sela waktu santaiku menikmati indahnya alam buatan Sang Pencipta, “alhamdulillah” gumamku dalam hati. 

(Sekian) Bersambung ….

Mimpi dan Sunyi …, (Part 2 eps 2)

Baru tersadar dalam bisikan indah dari langit utara yang membawa kesejukan dan ketenangan, kalau diriku tengah dilanda rasa rindu yang tak menentu. Kepada siapa kah rindu ini aku tuju ?, tentu kepada seseorang yang aku cintai dan aku dambakan. Kesunyian ini seakan tercerahkan oleh perhatian dan kasih sayangnya padaku, hingga hari ini terasa tawa manja dan senyum indahnya karena kehadiranku. 

Namun semua itu hanyalah fana, tidak ada yang bisa aku lakukan ketika waktuku kelak tiba untuk pulang kembali ke hadiratNya yang Maha memiliki segalanya. Agar dirinya tahu, bahwa cinta ini telah dia semaikan di kehidupanku yang tandus akibat luka jurang masa lalu yang menyakitkan itu. Hingga terwujud taman-taman kenangan di hati kecil ini yang berisi tentang saat-saat indah bersamanya. Biarlah setapak demi setapak aku lewati sejenak kenangan manis itu, sampai pada ujung aku menghadapi peradilan agungNya yang Maha Adil lagi Maha Penyayang. 

Ku lihat langit-langit rumah yang aku tempati sebagai rumah singgah di Malang, bayang-bayang dari masa lalu terkadang terbesit dan seolah perlahan ingin membuka luka lama yang mereka torehkan dan membuatku sedih. Perjuanganku seakan tak ada artinya lagi dan aku ingin segera menutup luka itu dan kisah itu selamanya, dan seperti terjawab doaku dengan munculnya sosok indah dirimu yang mempesona, manja, lagi rupawan. Siapa sangka bahwa selama ini aku telah menjadi idamannya dari masa lalu hingga sekarang, hingga akhirnya aku ingin menjalin kisah baru dengannya. 

Hari demi hari, kami berusaha menyamakan visi dan misi serta memahami segala kelebihan dan kekurangan maupun perbedaan yang ada di antara kami, dan tertanamlah rindu untuk bertemu dengannya lagi suatu hari nanti. Insya Allah, 
… “Aku sayang kamu, cintaku …” 

Kata ini terucap begitu saja … ^_^

(Sekian) Bersambung ..

Mimpi dan Sunyi …, (Part 2 eps 1)

Kerutan wajah langit yang mendesah melalui hembusan angin yang berbisik tuk kembali ke alam mimpi, membuat aku kembali merasakan ingin berlabuh ke alam bawah sadar yang seolah menjadi rumahku. Meski hanya mimpi, tidaklah serupa dengan asa dalam hati karena ini adalah mimpi di dunia yang nyata, hanyalah kenangan berkerangka angan-angan dan cita-cita yang belum terwujudkan. Hingga aku menyentuh tanah di bumi Arema, maka hanya itu saat aku benar-benar terbangun dimana kesadaranku berada di ujung ufuk fana. 

Haluan takdir mengitari bumi ini yang menghiasi hari-hari di waktu yang terik ini membuat aku merasa harus segera menyelesaikan semua beban yang aku punya agar tidak ada hutang tugas kuliah ke depannya. Aku merasa bahwa hari demi hari aku lalui seperti tak ada kejadian ataupun kenangan apapun, atau sambil lalu saja untukku. Sejenak bergurau dengan rekan sejawat dan kemudian pergi lagi, rutinitas ini tidak banyak ada perubahan. 

Hingga aku kembali terjun ke dunia maya, tepatnya di sebuah dunia dengan benua bernama “Shiltz”, aku merasa suasana yang jelas berbanding terbalik. Ibarat dunia paralel, serasa aku berada di kedua dunia, mimpi dan kenyataan. Meski itu dunia virtual, tapi seolah diriku yang di sana benar-benar “hidup” dan memiliki semangat. Karena itulah, hingga aku bangun dari mimpi itu, aku tetap merasakan semangat yang tersisa. Ya, aku akan mencoba bertahan dengan semangat ini. 

Bismillah … 

(Sekian) Bersambung …. 

Mimpi dan Sunyi …, (Part 1 eps 6)

Sahut menyahut hembusan angin di daratan nan sejuk bak suara alam yang berbicara dan bertasbih akan kebesaran Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Indah, waktu menunjukkan mega merah telah hilang dari ufuk terbenam mentari dan berganti munculnya teman setia di malam hari yang berwarna putih agak terang bertemankan bintang di angkasa. Terkadang aku menatap bulan untuk sejenak mengheningkan cipta atas setiap memori yang telah terekam dalam sanubari dan pikiran ini. Dan aku merasa, efek domino atau sebab-akibat suatu tindakan memberikan dampak yang beragam bak pelangi dalam kehidupan fana si pelaku kehidupan. 

Namun, tetap kesunyian yang nyaris senyap saat aku tahu kalau mereka, para manusia, telah beraktivitas jauh lebih banyak daripada sekedar duduk diam mengerjakan yang bisa dijangkau tangan dan kaki dengan radius kurang dari 10 meter, haha … “apa saja yang aku lakukan ini ?, cuma berkutat dalam dunia angka, huruf, dan dunia digital di depan mata”. Yah, dengan segala pertimbangan yang ada, terkadang seseorang mengambil suatu keputusan yang biasa saja atau mungkin di luar kebiasaan norma lingkungan. 

Kesunyian dalam keramaian, hah.. mau apa lagi, kepribadian ini seolah menerima segala pernyataan yang orang lontarkan seperti rasanya dihakimi oleh ribuan hakim beberapa dunia. Memang terdengar agak ngawur dan mengada-ngada, tapi itulah kehidupan dan norma adat istiadat, yang telah menjadi aturan baku tak tertulis yang sudah mendarah daging dalam tanah pertiwi ini. 

“Aku kangen kamu, … kamu bagaimana ?”, ujarku dalam hati setelah bermunajat syahdu pada Sang Maha Cinta di waktu Isya barusan. Hanya helaan nafas dan doa tulusku untuk setiap insan yang kurangkum dalam “untuk setiap yang hidup maupun yang telah mendahuluiku, berkahi dan terangi mereka dengan cahayaMu, Ya Allah. Hapuskan segala kesukaran dan kesusahan mereka baik yang dahulu maupun yang akan mereka hadapi”. 

Biarlah doa ini menjadi penyambung hatiku dengan hatinya yang Allah siapkan untuk diri ini, entah dia mendengar atau tidak. Ketulusan yang aku miliki adalah ajaran dan didikan yang aku peroleh dari berbagai pihak. 

Cinta … dalam mimpi dan kesunyianku … 

(Sekian) Bersambung … => Part 2 .. coming soon .. 

Mimpi dan Sunyi …, (Part 1 eps 5)

Bayang kaki tepat dibawah sinar matahari yang tersenyum terik menunjukkan waktu tengah hari, dan langkahku mengajak ke tempat yang masih teduh di sudut kampus untuk sekedar berselancar internet ria. Anganku terbang entah jauh kemana hingga aku masih teringat senyum indah yang aku lihat dan aku kenang sejak hari itu, ya dialah pujaan hatiku. Namun semua itu hanyalah masa lalu yang sekarang jadi pembelajaran dan bagian dari sejarah hidupku saja. 

Hingga saat ini pun aku tidak merasa bahwa hal itu perlu dipikirkan lagi, hanya akan membuat waktuku terbuang percuma untuk memikirkan seseorang yang tidak menghargai dan menjaga hati tulus ini. Ku lihat jam di HP menunjukkan waktu pukul 12.50, masih cukup pagi untuk pribadi seperti aku yang senang begadang alias tidur malam-malam di liburan akhir pekan untuk melakukan hal-hal lain. 

Saat ku dengar musik kesukaanku, perlahan semangatku kembali lagi. Sembari menyapa setiap kenalan di sosial media dan mencari literatur dari internet untuk tugas kuliah, musik ini seolah sebagai kehangatan kasih sayang ibu meski ibuku bukan pecinta musik seperti ini, hahaha … namun terkadang, inspirasi dan motivasi dari lagu ini membuat bulu kuduk ku merinding dan terus menyemangati diri sendiri “ayo kamu pasti bisa, karena semangat dan pantang menyerah itulah kamu”. Suara hati itu terus membisiki pribadi yang tengah menempuh semester 5 ini untuk terus maju dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.

Proyek yang sedang aku kerjakan di saat semua kesibukan mulai memenuhi jadwal kegiatanku membuat ambisiku kembali membara, “Game ini harus selesai dan minimal bisa aku persembahkan sebagai rasa hormatku pada sejarah dan budaya negeri ini”. Memang, tidak banyak di jurusanku yang memiliki bakat dan minat seperti aku, membuat game. hahaha .. aneh bukan ?. Tapi itulah ciri khas aku dibanding yang lain, yang membuat penelitianku juga berlandaskan IT ke depannya. 

Memang ilmuku masih jauh dari kata mumpuni, tapi aku tidak akan menyerah untuk terus belajar dan belajar …. 

(Sekian) Bersambung ….